heterotrigona_itama
Tampilkan postingan dengan label Peternakan Trigona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan Trigona. Tampilkan semua postingan

21 Desember 2016

Tips Agar Kelulut Mau Naik Ke Kotak Topping

kotak_koloni

Saat pemasangan kotak topping terkadang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Pertama kali kotak topping dipasang di atas log terkadang kelulut tidak mau naik tapi malah menutup lubang yang menghubungkan log dan topping, kita lubangi lagi dengan mengambil propolis yang digunakan lebah untuk menutup lubang, ditutup lagi, dilubangi ditutup lagi, he he he... jangan jengkel dong.

Saya mengalami hal seperti ini, langsung saya menanyakan ke teman-teman di komunitas peternak kelulut. Abang Ninoeschan Jungle (Noes) dari Riau banyak memberi penjelasan seputar ternak kelulut. Berikut adalah tips dari beliau masalah kelulut yang tidak mau naik ke topping.

Jika lubang topping ditutup, coba lubangi lagi dengan menggunakan paku atau obeng kemudian disekitar lubang dikasih pollen (roti lebah) sebagai pemancing. Jika lubang ditutup lagi oleh lebah, ulangi lagi hal seperti tadi.

propolis trigona

Satu lagi yang bisa dicoba adalah dengan memaksa lebah pekerja naik ke atas. Ini dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
  • Buang propolis yang menutupi lubang topping di bagian atas dan tutup kembali dengan rapi
  • Pada waktu malam (dalam jam 8.00 pm), tutup corong dengan rapi agar kelulut tidak dapat keluar masuk
  • Pada awal pagi, siang dan sore keesokkan nya, ketuk log kayu (daerah induk sel) perlahan-lahan untuk memaksa lebah pekerja keluar dan berkumpul di dalam topping
  • Pada hari berikutnya, buka corong keluar masuk yang ditutup tadi.
  • Jika tidak berhasil, ulang proses yang sama. Pada kali tutup moncong selama dua hari sebelum dibuka kembali Satu lagi langkah yang dapat dilakukan oleh petani adalah dengan menembus topping untuk menjadi jalan keluar masuk baru dan seterusnya tutup corong asli. Ini akan memaksa naik ke atas log dan seterusnya membuat madu.

06 Juni 2016

Hama Pengganggu dan Penyakit Pada Trigona

hama_pengganggu_trigona

Ketiadaan sengat sebagai senjata pertahanan diri membuat trigona sering menjadi sasaran empuk predator. Untuk mempertahankan saranag dan dirinya, mereka harus bertarung sampai mati. Berikut beberapa predator musuh trigona.
  • 1. Lalat Buah (Drosophila) Inilah salah satu musuh besar lebah trigona. Serangga bersayap yang masuk dalam ordo Diptera itu mengintai saat peternak melakukan bongkar sarang. Saat sarang terbuka, untuk Drosophila menyelinap lalu menyimpan ribuan telurnya di dalam sarang lebah. Ketika telur berubah menjadi larva, bencanapun datang. Belatung drosophila yang kelaparan akan memakan larva trigona. Populasi lebah itu pun terancam punah.
    Drosophila biasanya aktif pada siang hari saat suasana terang. Karena itulah peternak disarankan untuk membongkar sarang di pagi hari dan sudah menyiapkan sarang baru sebelum sarang lama dibongkar. Jadi begitu sarang lama dibuka, koloni lebah langsung masuk ke sarang baru dan sarang ditutup menggunakan getah asal sarang lama. Dengan begitu drosophila tak sempat masuk.

  • 2. Semut. Meskipun berukuran kecil, semut sangat agresif menyerang hampir seluruh penghuni sarang seperti telur, larva, ratu, dan lebah dewasa. Mereka dapat membunuh penghuni sarang dalam hitungan jam. Untuk mengatasinya dapat dilakukan antara lain meletakkan log atau hive (kotak sarang) di atas kursi atau penyangga yang kakinya sudah diolesi dengan oli atau gemuk, menaburkan obat semut (shevin) di sekitar kotak sarang, dan menaruh log diletakkan di bangku kecil yang kaki-kakinya diletakkan di wadah berisi air.

  • 3. Cicak. Cicak merupakan salah satu predator atau pemangsa trigona. Harus difahami bahwa sumber pakan utama adalah serangga. Cicak bersifat diurnal atau aktif pada siang hari. Ia dapat berdiam lama di dekat mulut lubang jalan keluar masuknya trigona. Saat ada trigona mendekat ke arahnya, secara cepat lidahnya menjulur dan menangkap trigona. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengoleskan lem tikus pada papan alas log. Dengan lem tikus otomatis cicak yang berniat mendekati lubang sarang trigona akan terjerat. Lem tersebut dioleskan secara acak di papan sehingga tidak ada celah bagi cicak untuk mendekati lubang sarang trigona.

  • 4. Kelabang. Kelabang atau lipan Scolopendra hardwicki ternyata dapat menjadi pengganggu bagi lebah trigona. Hasil riset Vijayakumar dari Department of Agricultural Entomology, Tamil Nadu Agricultural di India yang tertuang dalam International Journal of Advanced Life Sciences pada 2012 mengungkapkan Lipan mampu merusak kayu sebagai tempat tinggal lebah trigona T. Iridipennis.
    Tidak hanya merusak rumah lebah trigona, kelabang sepanjang 7,5 cm seringkali menyantap trigona yang berada di dekatnya. Dari pengamatan Vijayakumar hanya butuh 5 detik bagi lipan untuk menangkap hingga menyantap trigona yang sudah lemas lantaran lipan mengeluarkan racun. Sebab itu untuk mengatasi lipan atau kelabang menurut Vijayakumar, peternak meski rajin menengok rumah trigona untuk memastikan Arthropoda itu tidak ada di sekitar rumah lebah.

  • 5. Nitidulidae. Serangga mungil sepanjang 2 mm itu biasanya mengintai sarang trigona di sore hari ketika hari mulai gelap. Serangga berwarna coklat dengan sayap menutup 4/5 badan itu normalnya hidup didalam bunga. Ia memakan nektar dan pollen, misal pada bunga palem. Nitidulidae terpikat sarang yang terbuka karena tertarik pada polen yang asam. Cara mengatasinya sama dengan Drosophila.

  • 6. Ngengat. Ngengat merupakan serangga sejenis kupu-kuou. Hama ini akan meletakkan telur didalam sarang lebah pada malam hari. Telur tersebut akan menetas dan menjadi ulat yang memeakan lilin sarang lebah sehingga menyebabkan sisiran sarang rusak. Untuk mengatasinya peternak dapat memasang lampu perangkap di sekitar sarang.

  • 7. Burung Walet. Burung walet atau burung sriti akan mengincar lebah trigona yang tengah beterbangan mencari pakan.

  • 8. Tungau. Tungau menghisap cairan tubuh lebah dari tingkat larva sampai dewasa. Terdapat dua jenis tungau yang menyerang trigona. Yaitu Varca jacobsoni dan Tropilaelaps clarae. Varaca yang berwarna coklat kemerahan bertubuh besar, lambat bergerak. Berbeda dengan tropilaelaps yang berwarna abu-abu kecoklatan dan memiliki pergerakan yang lebih cepat. Hama tungau ini dapat diatasi dengan cara:
    - Gunakan akarisida atau jenis apistan dosis 1 cc/liter air. Aplikasi larutan itu 2-3 kali setiap 4 hari di pagi hari dengan cara menyemprotkan tipis-tipis di seluruh log.
    - Gunakan campuran serbuk kapur barus dan belerang, perbandingan 3:1. Tebarkan di atas karton yang diletakkan di sekitar log atau kotak sarang selama 3 jam setiap 4 hari sekali.

Penyakit

Dalam beternak trigona, peternak mesti paham terhadap kehadiran beberapa penyakit yang mempengaruhi perkembangan koloni dan produktiviltas madu serta propolis.
  • Busuk Larva. Larva lebah yang membusuk dapat terjadi karena minimnya ketersediaan pakan, cuaca buruk , dan bakteri. Untuk mengatasinya peternak perlu memberikan pakan tambahan berupa stumulan pollen, stimulan gula yang dicampur terramycin, dan memusnahkan sisiran yang membusuk.

  • Keracunan. Keracunan umumnya disebabkan oleh pemakaian insektisida di sekitar lokasi. Jika koloni sudah terserang bakal dijumpai lebah mati di sekitar pintu masuk sarang. Sebab itu, sebelum menempatkan sarang peternak perlu melakukan survey lokasi. Vegetasi tanaman sumber pakan pun sedapat mungkin terbebas dari insektisida.

  • Diare. Diare akan ditandai dengan dijumpainya kotoran cair berwarna putih kekuningan di sekitar sarang. Diare pada lebah trigona terjadi karena cuaca buruk, pakan sumber polen terbatas, dan terlalu banyak cairan gula yang diberikan sebagai pakan tambahan.

28 Mei 2016

Efek Ganda Budidaya Lebah Trigona

 photo stup klanceng

Tidak kita sadari bahwasanya membudidayakan lebah trigona memiliki efek ganda, yakni pelestarian flora (lebah trigona) yang terancam punah dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat.

Seperti yang dialami Sukandar, dari Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Dia beternak lebah tak bersengat ini sejak tahun 2006, bila beragam kendala dapat diatasi, Sukandar mencecap manisnya membudidayakan lebah trigona jenis T. incisa yang kini mulai marak di berbagai daerah. Indikasinya permintaan bendala (stup koloni trigona) terus bertambah. Dua tahun terakhir, Sukandar melayani permintaan trigona dari berbagai wilayah seperti Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, Ambon (Maluku), Jayapura (Papua), bahkan Timorleste. Pada Desember 2009, Sukandar mengelola 400 bendala. Saking banyaknya permintaan, ia menjual hingga 350 stup senilai Rp105-juta. Harga sebuah stup dengan koloni baru Rp300.000. Namun, jika koloni telah berkembang dan menjelang panen, harga meningkat menjadi Rp500.000 per stup.

Gregori Garnadi Hambali, ahli Biologi di Bogor, Jawa Barat, mengatakan, gairah masyarakat membudidayakan trigona sekaligus merupakan langkah penyelamatan spesies yang terancam punah itu. Menurut Greg, hutan – habitat trigona – yang terbakar menjadi ancaman bagi penyelamatan lebah itu. Laju deforestasi hutan di Indonesia mencapai 2,78-juta ha per tahun. Selain itu beternak trigona berarti juga menjaga lingkungan hidup tetap berkualitas. Sebab, tanpa dukungan lingkungan yang baik, tak mungkin beternak trigona atau lebah lain.

Prof Dr Siti Salmah, guru besar Jurusan Biologi Universitas Andalas, mengatakan kunci sukses beternak trigona antara lain vegetasi atau kehidupan tumbuhan yang terjaga. Menurut Siti Salmah masyarakat perkotaan pun berpeluang membudidayakan lebah trigona. Doktor Zoologi alumnus Hokaido University itu membuktikannya sendiri dengan beternak Trigona minangkabau dan T. itama di Lubukminturun, Kotamadya Padang, Sumatera Barat. Salmah telah membudidayakan lebah trigona selama 6 tahun.

Baik Mappatoba di Makassar dan Greg Hambali di Bogor juga pernah melakukan hal serupa. Greg sudah mengelola 5 spesies seperti Trigona laeviseps, T. itama, dan T. apicalis yang bertahan hingga sekarang. Jadi tidaklah berlebihan jika para peternak lebah trigona layak dijuluki sebagai pengusaha dan pelestari lingkungan.

15 Februari 2016

Berburu Lebah Trigona di Alam

kelulut

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyebaran lebah Trigona berada di sekitar kita, mulai di sekitar pemukiman, di pohon-pohon tua di sekitar rumah, sampai di habitat aslinya yakni di hutan belantara. Sebelum menjelaskan bagaimana cara mencari lebah trigona di alam terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa dan bagaimana lebah trigona mempertahankan diri, bagi yang sudah tahu cukup ikut menyimak saja.

Lebah trigona adalah lebah berukuran kecil yang tak memiliki sengat, namun demikian bukan berarti mereka lemah dalam hal pertahanan diri, selain mengandalkan propolis sebagai pertahanan mereka juga memiliki gigitan yang lumayan kuat, memiliki trik dalam menentukan sasaran penyerangan, bila menyerang manusia biasanya mereka memilih bagian tubuh kita yang lumayan vital dan memiliki daerah kejut seperti lubang hidung, lubang telinga, leher, mata dan sela-sela rambut. Walau pun gigitannya tidak membahayakan namun terasa cukup mengejutkan dan mengganggu bila terus di biarkan. Setiap lebah memiliki kebiasaan menyerang orang yang baru mereka kenal.

Cara terbaik menghindari serangan lebah trigona adalah memahami karakter lebah itu sendiri, contohnya lebah trigona sangat senang dengan orang yang berkeringat apalagi yang belum mandi, bau tubuh orang yang belum mandi akan menarik perhatian para lebah. Mengapa demikian? Dalam dunia ilmiah lebah trigona dikenal juga sebagai lebah keringat (sweat bee), mereka cenderung menyukai keringat karena dalam setiap keringat mengandung mineral penting yang di butuhkan oleh setiap lebah. Nah, orang yang belum mandi cenderung lebih berkeringat karena suhu tubuhnya lebih tinggi dibanding orang yang sudah mandi, jadi jangan coba-coba mendekati sarang lebah trigona bila Anda belum mandi.

Bila Anda sudah tahu cara menghindari serangan lebah maka tinggal belajar mengenali tempat-tempat dimana saja lebah trigona bersarang di alam. Di daerah tertentu lebah trigona terutama jenis T. laeviceps, T. iridipennis, T. incisa, dan T. hockingsii, dengan mudah ditemukan di kawasan pemukiman warga, mereka biasa bersarang di bagian konstruksi rumah, dangau di kebun, kandang ternak dan ditempat lain yang dibuat manusia.

Bangunan yang ditinggali lebah trigona biasanya di bangunan yang masih tradisional seperti rumah panggung atau rumah setengah badan. Di bangunan seperti ini mereka memilih bersarang di bagian-bagian yang sulit di jangkau dan sering diabaikan manusia, contohnya di bagian atap rumah, penahan palupuh (lantai bamboo), daun pintu dan tempat lainnya.

Sedangkan lebah trigona yang bertubuh lebih besar biasanya lebih memilih bersarang di lokasi yang sulit dijangkau manusia, seperti di puncak gunung, tebing, lembah, aliran sungai besar dan hutan belantara. Di alam bebas lebah trigona bersarang di pepohonan yang berlubang, di batuan berongga, di batu karang dan di tanah bertebing, hampir semua jenis lebah trigona mampu bersarang di seluruh media yang disebutkan tadi, walau ada jenis tertentu yang sangat spesifik dalam memilih media sarang seperti T. thoracica yang mayoritas memilih tanah sebagai media sarang koloninya. Jenis lain yang memilih media tertentu sebagai sarangnya adalah T. Itama, jenis ini cenderung memilih media kayu untuk sarangnya seperti di lubang pohon-pohon besar dan atau tunggul dari kayu keras bekas ditebang.

Untuk menemukan sarang lebah trigona di alam memerlukan kejelian dalam mengenali ciri-ciri sarang, setiap sarang lebah trigona memiliki jalur pintu masuk (entrance) yang khas dan gampang dikenali karena menggunakan beragam material propolis dalam membangunnya. Ada beberapa bentuk pintu masuk ke sarang lebah trigona, ada yang berbentuk seperti corong, seperti pipa dan ada yang hanya mengoles-oleskan resin dan getah disekitar pintu masuknya, yang pasti setiap pintu masuk lebah trigona ditandai oleh getah dan resin serta material lain yang diatur dan hanya dikenali oleh masing-masing koloni.

Di hutan yang belum di kenal, tentu sulit menemukan sarang trigona. Masyarakat desa Radda, kecamatan Baebunta, kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, mempunyai kiat yang ampuh untuk menemukan sarang trigona. Caranya ia membakar ikan asin di hutan. Aroma ikan asin mengundang lebah-lebah mini itu berdatangan. Mereka akan berkerumun di sekitar asap ikan asin. Ketika asap ikan habis, mereka terbang beriringan menuju sarang. Kita tinggal mengikuti arah terbangnya trigona sehingga mengetahui lokasi sarang di lubang pohon.

Namun, perlu di ingat melakukan perburuan lebah trigona di alam bebas dapat berisiko mengurangi populasi lebah trigona di alam, hal ini kurang bijak dilakukan kecuali untuk tujuan pelestarian melalui pembudidayaan, itu pun harus ditunjang dengan pengetahuan yang cukup tentang lebah tak bersengat sebelum Anda berpikir membudidayakannya. Kalau tidak, alih-alih pelestarian malah memusnahkan spesies lebah trigona di alam yang merupakan kekayaan keanekaragaman hayati kita.

09 Februari 2016

Cara Memecah Koloni Trigona

T.laeviceps

Memecah koloni lebah Trigona (klanceng, kelulut) bertujuan untuk memperbanyak jumlah koloni lebah dari satu koloni menjadi dua koloni. Perbanyakan koloni bisa dilakukan dengan cara pemecahan koloni. Pemecahan koloni ini harus dilakukan, tidak bijak rasanya apabila kita selalu mengambil koloni dari alam bebas walaupun hal tersebut bertujuan pelestarian. Dengan riset ini diharapkan adanya kemandirian peternak lebah trigona dalam memperbanyak koloni yang dibudidayakannya dari jenis tertentu tanpa harus susah payah blusukan ke dalam hutan.

Saat Anda memutuskan untuk memecah sebuah koloni Trigona, ada beberapa syarat agar berhasil dan tidak menyengsarakan lebah. Berikut beberapa syaratnya:

1. Koloni lebah dalam keadaan kuat
2. Terdapat banyak lebah pekerja
3. Terdapat banyak telur
4. Terdapat madu dan pollen
5. Pemecahan dilakukan pada musim bunga mekar, artinya banyak tersedia pakan.

memecah_koloni_lebah
Langkah dan cara memecah koloni trigona baik jenis laeviceps atau itama adalah sebagai berikut.
  • Lihat apakah sudah ada telur calon ratu atau belum, telur calon ratu bentuknya paling besar dan biasanya terletak bercampur dgn telur pekerja. Pastikan anda memiliki telur calon ratu, bila tidak anda bisa mengambilnya dari kotak lain, tapi yang masih satu jenis.
  • Sediakan kotak kosong di samping kotak lama.
  • Jika koloni yang mau dipecah masih berbentuk kayu log, maka log perlu dibelah dulu dengan gergaji chain saw. Jika koloni lebah ada di dalam kotak (stup) maka kotak perlu dibuka. Congkel serta ambil dengan hati-hati sebagian telur, madu, pollen, propolis, serta ratu, dan pindahkan ke dalam kotak kosong yang telah disiapkan.
  • Olesi lubang masuk (entrance) dengan propolis koloni itu, dan dekatkan pada kotak/log lama sambil kotak lama di geser sedikit. Biarkan lebah pekerja masuk sebagian pada kotak/log baru dan lama.
  • Pastikan kedua kotak terisi masing-masing cukup banyak lebah pekerja (sebagian).
  • Pindah kotak baru yg ada ratunya pada jarak yg agak jauh.
  • Pada kotak/log lama tanpa ratu, pastikan ada telur calon ratu, jika tidak ambil telur calon ratu dari kotak lain dan letakkan di situ.
  • Tunggu sampai calon ratu menetas, setelah kawin baru ratu akan bertelur.
  • Lakukan percobaan ini beberapa kali dan semoga berhasil, sesungguhnya segala sesuatu memerlukan ilmu untuk mengerjakanya dan pengalaman adalah ilmu yg akan memantapkan teori ini. Selamat mencoba.

11 Desember 2015

Cara Membuat Kotak Koloni (Stup) Trigona

tawon_klanceng

Cara membuat kotak (box) atau stup untuk tempat tinggal koloni Trigona. Stup ini kami rancang agar dapat digunakan untuk jenis Tetragonula laeviceps hitam (klanceng hitam), bisa juga digunakan pada jenis klanceng kecil lain yg sesuai, mungkin semisal klanceng kuning, Trigona incise, Heterotrigona itama, dll.

Kotak (stup) ini terdiri dari 3 susun, jika Anda menghendaki kotak koloni tunggal 1 tingkat cukup gunakan gambar nomor 1 saja, dengan ditambah tutup atas. Tapi jika Anda menghendaki kotak koloni lengkap dengan topping (kotak madu) maka desain yang ada ini cukup layak untuk digunakan.

 photo sketsa_stup_trigona

Ukuran stup yg akan kita buat di ukur dari luar memiliki panjang 29,5 cm x lebar 18 cm x tinggi 14 cm. Bahan yang di perlukan :
  • Papan. Sebaiknya memiliki tebal 1,5 atau 2 cm supaya suhu stabil, namun untuk jenis Tetragonula leaviceps di daerah yg sejuk bisa menggunakan papan 1 cm.
  • Gergaji. Bisa pakai gergaji tangan atau gergaji mesin untuk memotong dan membelah kayu
  • Ketam. Untuk menghaluskan kayu.
  • Paku, palu, tang, pensil, penggaris, dll
Untuk cara membuatnya bisa dilihat pada gambar dibawah ini, sedangkan untuk ukurannya bisa dilihat pada gambar diatas.

 photo kotak_trigona.jpg
Keterangan Gambar :
1. Kotak bagian bawah.
2. Kotak bagian bawah + Kotak bagian atas.
3. Kotak bagian bawah + Kotak bagian atas + Sparator.
4. Kotak bagian bawah + kotak bagian atas + Sparator + Kotak madu
5. Bentuk yang sudah jadi, bagian atas bisa dibuatkan atap sebagai pelindung dari sinar matahari.
6. Kotak (stup) diletakkan di tempat yang teduh.

02 Desember 2015

Tanaman Pakan Lebah Trigona

tawon_klanceng

Jenis tanaman sebagai pakan lebah Trigona adalah semua jenis tanaman berbunga, yaitu perkebenunan, tanaman hutan, tanaman pertanian, tanaman hortikultura dan tanaman liar. Dengan ciri di dalam tanaman tersebut mengandung unsur-unsur nektar (madu), tepungsari (pollen), ekstrafloral dan propolis. Nektar bunga dihisap dengan mulutnya/belalai, sedang tepungsari bunga dikumpulkan dan dibawa ke sarang dengan melekatkan pada kakinya. Jenis tanaman di sekitar kita yang dapat diperuntukkan sebagai pakan lebah madu disajikan pada tabel berikut ini :

No Nama Tanaman Jenis Pakan
1 Aren Pollen dan Nektar
2 Lamtoro Pollen dan Nektar
3 Randu Pollen dan Nektar
4 Karet Ekstra Flora
5 Tebu Pollen
6 Vanili Pollen dan Nektar
7 Kelapa Pollen dan Nektar
8 Kopi Pollen dan Nektar
9 Tembakau Pollen
10 Wijen Pollen dan Nektar
11 Jambu Mete Pollen
12 Kelengkeng Pollen dan Nektar
13 Kedondong Pollen dan Nektar
14 Durian Pollen dan Nektar
15 Jambu Biji Pollen dan Nektar
16 Salak Pollen
17 Delima Pollen
18 Kesemek Pollen dan Nektar
19 Apukat Pollen
20 Belimbing Pollen dan Nektar
21 Mangga Nektar
22 Rambutan Nektar dan Pollen
23 Kaliandra Nektar
24 Jagung Pollen
25 Putri Malu Pollen
26 Akasia Nektar
27 Damar Nektar
28 Keruing Nektar
29 Macaranga Nektar
30 Pae-pae Nektar
31 Benduru Pollen
32 Begonia Pollen
33 Kelapa Sawit Pollen
34 Kersen Pollen
35 Mallotus Pollen
36 Melon Pollen
37 Nangka Pollen
38 Sengon Pollen
39 Soka Pollen
40 Bubun Pollen dan Nektar
41 Cendana Pollen dan Nektar
42 Elaeocarpus Pollen dan Nektar
43 Eukaliptus Pollen dan Nektar
44 Euphorbia Pollen dan Nektar
45 Jambu Air Pollen dan Nektar
46 Jarak Batavia Pollen dan Nektar
47 Labu Kuning Pollen dan Nektar
48 Mengkudu Pollen dan Nektar
49 Petai Cina Pollen dan Nektar
50 Salam Pollen dan Nektar
51 Sempur Pollen dan Nektar
52 Singkong Pollen dan Nektar
53 Uru Pollen dan Nektar
54 Agathis Resin
55 Artocarpus Resin
56 Cemara Resin
57 Damar Resin
58 Garcinia Resin
59 Kenari Resin
60 Kemenyan Resin
61 MerantiResin
62 Philodendron Resin
63 Pinus Resin
64 Rosamala Resin
65 Trenggulun Resin
66 Sawo Resin

Untuk menunjang aktifitas perlebahan, tanaman pakan lebah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  • Bunganya mengandung unsur-unsur nektar, tepungsari, dan propolis yang mudah diambil oleh lebah.
  • Tanaman berbunga tersebut tersedia dalam jumlah yang banyak dan masih segar serta lokasi pemeliharaan lebah berada dekat di sekitar tanaman pakan.
  • Tanaman tersebut diharapkan beraneka jenisnya sehingga adanya pergiliran musim bunga dan tersedia sepanjang tahun.

18 November 2015

Budidaya Lebah Madu Trigona sp

tawon_klanceng

Trigona sp merupakan salah satu jenis dari genus Meliponini yaitu jenis lebah madu yang tidak bersengat (stingless bee). Trigona sp baru dikenal dan mulai dibudidayakan oleh masyarakat karena kemudahan budidaya dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Hanya diperlukan stup dan ketersediaan sumber pakan untuk dapat membudidayakan lebah ini. Yang unik dari lebah tak bersengat ini adalah dalam hal perlindungan terhadap sarangnya, Trigona mengandalkan propolis untuk melindungi sarang dari serangan predator dan untuk mempertahankan kestabilan suhu di dalam sarang. Dari pengamatan Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPTHHBK), di Mataram, NTB, pembudidaya Trigona ditemukan di dataran rendah (daerah pantai) hingga ke daerah dataran tinggi (pegunungan) dan berhasil dengan baik di semua lokasi.

Teknik budidaya lebah madu Trigona sangat mudah. Peralatan yang harus disiapkan dalam membudidayakan Trigona adalah sarang buatan (stup), tali tambang, pisau kikis, mangkuk, saringan dan tempat hasil perasan madu. Pembuatan stup dibutuhkan papan kayu dengan ketebalan kayu ± 2 cm dan paku. Pembuatan stup lebah madu Trigona sp menggunakan kayu dengan ketebalan ± 2 cm karena untuk menjaga kelembaban dan stabilitas sarang. Jika kayu yang digunakan ketebalannya kurang dari 2 cm, kebanyakan koloni Trigona akan pergi meninggalkan sarangnya. Stup dibuat dan didiamkan selama 3 hari, agar kondisi suhu dan kelembaban di dalam stup menjadi stabil. Setelah 3 hari, stup siap digunakan.

Stup diletakkan dengan 2 cara yaitu digantung atau diletakkan di rak penyimpanan. Digantung di lokasi yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak terkena hujan. Beberapa pembudidaya meletakkan stup dengan digantung di pohon besar dengan alasan menciptakan suasana sarang yang sama dengan sarang aslinya. Tempat lain untuk menggantung stup yaitu disekitar pinggiran rumah dan pohon-pohon yang tumbuh di halaman rumah. Untuk rak penyimpanan stup bisa diletakkan di kebun dan halaman rumah. Di alam, Trigona bersarang di pohon lapuk dan di ruas pohon bambu. Pohon bambu diambil 2 ruas yang menjadi tempat bersarang Trigona, koloni menggunakan sarang di ruas bambu bagian atas untuk meletakkan telur dan berkumpulnya koloni, sedangkan di bagian bawah digunakan sebagai penyimpan madu dan bee pollen.
koloni lebah

Bambu yang berisi koloni Trigona ditebang dan diusahakan menebang dan membawa koloni pada sore hari agar semua anggota koloni pulang ke sarang dan tidak ada anggota koloni yang tertinggal. Tahap selanjutnya adalah pemindahan koloni dari sarang alami ke dalam stup. Pemindahan dilakukan pada malam hari setelah semua koloni kembali ke sarang atau dini hari ketika koloni belum mencari pakan keluar sarang.

Perkembangan Trigona sp dalam memproduksi madu cukup beragam, 2 bulan sampai 6 bulan adalah rentang waktu bagi Trigona sp untuk memproduksi madu. Selama rentang waktu tersebut, stup didiamkan tanpa membuka tutupnya, hal ini bertujuan agar Trigona merasa aman dan fokus dalam memproduksi madu. Hanya dilakukan pemeliharan seperti pembersihan dari sarang laba-laba, pembersihan dari sarang semut, dan pemeriksaan kondisi stup jika terkena air hujan. Pemanenan madu maupun propolis dilakukan dengan cara tradisional yaitu menggunakan pisau kikis. Madu maupun propolis dikikis menggunakan pisau secara hati-hati, tanpa mengganggu telur dan ratu lebah madu Trigona. Hasil tirisan madu langsung dimasukkan ke dalam botol dan ketika sudah penuh botol langsung ditutup.
sarang_trigona photo sarang_trigona

Beberapa kendala dalam pembudidayaan lebah Trigona adalah kurangnya pengetahuan tentang budidaya Trigona, sehingga tidak tahu waktu memanen madu dan propolis yang tepat. Hal ini menyebabkan stup penuh dan Trigona kabur. Kendala kedua adalah meletakkan stup di lokasi terkena langsung dengan sinar matahari, sehingga suhu didalam stup terlalu tinggi, bisa menyebabkan Trigona pergi dari sarangnya. Kendala ketiga adalah adanya polusi dari pestisida dari lingkungan sekitar pembudidaya yang dapat menurunkan produksi madu sampai 0%. Kendala terakhir adalah kondisi stup yang terlalu besar maupun terlalu kecil karena belum menemukan ukuran stup standar bagi trigona.

Sumber : BPTHHBK Mataram-NTB

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...